Teh, Spa, dan Dea

Bagi Informasi Ini

spa deaCantik adalah menjadi terbaik versi diri sendiri. Berangkat dari itu, Andradea Putri (25) tak ingin terjebak pada stereotip tentang kecantikan. Ia ingin menampilkan kecantikan unik Indonesia. Lewat terapi pijat dan teh. Dalam industri spa, memilih terapis sangat penting karena menjadi etalase dari citra keindahan yang ingin ditonjolkan. Namun bagi Dea, sapaannya, cantik tidak sekadar berkulit putih dan berambut lurus. Ia justru ingin menghadirkan kecantikan sebenarnya, yang ada di sudut-sudut Indonesia. Jadilah Dea mengambil sebagian terapis dari Indonesia timur. Mereka yang memiliki kecantikan khas dengan warna kulit yang lebih gelap dan rambut ikal. ”Waktu belajar manajemen spa dulu, salah satunya dipelajari bahwa memilih terapis yang berpenampilan baik, putih, bersih. Kebetulan terapis pertama saya, kok, justru dari Indonesia timur. Pijatannya ternyata enak sekali. Sambil ngobrol, terungkap kalau di kampung halamannya banyak perempuan seusia dia yang tidak punya keahlian. Akhirnya, saya minta dua temannya dari sana untuk belajar jadi terapis. Ternyata pijatannya enak-enak semua. Saya jadi terpikir, mengapa tidak kita gali potensi dari sana,” ujar Dea.

Dari 14 terapisnya saat itu, sebanyak sembilan orang berasal dari Indonesia Timur, seperti Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Lima di antaranya kini sudah mandiri dengan membuka salon dan spa di daerah asal masing-masing.

Dea baru berusia 20 tahun ketika memulai bisnis di bidang spa yang ia beri nama Tea Spa. Dea berjibaku mengatur waktu demi mengurus ”bayi” bisnisnya. Agar spanya punya ciri khas menonjol, ia sengaja memilih teh sebagai bahan dasar untuk semua perawatan, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Beberapa di antaranya adalah berendam di dalam teh hitam, detoksifikasi, dan pijat wajah dengan jamur pemakan kombucha. Pelanggannya menyukai terapi sleep and sound untuk membantu mereka yang sulit tidur.

Pijat dan teh

Dea suka pijat dan suka teh. Kedua hal ini ia gabungkan dalam Tea Spa. Tiada hari tanpa teh bagi Dea. Ia bisa minum bercangkir-cangkir teh setiap hari. Hasil penelitian tentang khasiat teh, terutama teh hijau yang kaya anti oksidan sehingga sangat baik untuk kesehatan dan kecantikan, meyakinkan dirinya memilih teh untuk berbagai produk spa, seperti massage oil, body lotion, butter, body scrub, body wash, dan sabun.

Dea mendatangi petani-petani teh di sebuah kawasan perkebunan di Jawa Barat. ”Saya datang langsung ke petani-petani. Mereka senang karena dapat harga lebih bagus dari biasanya,” kata Dea.Semula, Dea membuat sendiri minyak esensial dari teh. Ia bisa terjaga hingga larut malam demi menyaksikan tetes demi tetes minyak esensial yang dihasilkan dari pemrosesan daun teh. Namun, seiring kebutuhan yang terus meningkat, Dea lantas bekerja sama dengan sebuah usaha kecil dan menengah (UKM) di Bali yang memproduksi minyak esensial. Ia hanya mengirimkan bahan baku berupa ekstrak daun teh kepada perajin UKM itu agar minyak esensial yang dihasilkan beda dari yang lain.

Begitu pula dengan produk spa. Dea bekerja sama dengan UKM pembuat produk spa, juga di Bali. Agar punya keharuman khas, Dea menggunakan minyak esensial produknya sendiri.

Selain dari petani, teh-tehnya juga berasal dari kebun teh milik seorang rekan ayahnya. Dea menggunakan aneka jenis teh dalam negeri, mulai dari teh hitam, teh hijau, teh putih, hingga teh oolong.

Sebelum membuka bisnis spa yang berada di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta, Dea terbang ke Bali dan Lombok untuk belajar tentang manajemen spa. Selama tiga bulan ia mendatangi berbagai spa, produsen minyak esensial, dan produk spa. Ia juga belajar teknik pijat yang ia terapkan dengan membuka kursus pelatihan pijat dan spa. Tenaga terapisnya ia didik sendiri di tempat pelatihannya itu.

Wewangian

Harum lavender yang mengambang di udara mengiringi perbincangan dengan Dea siang itu. Wewangian dan hal-hal lain yang terindera adalah beberapa aspek yang perlu digarap dalam dunia spa. Pemikirannya tentang spa itu ia tuangkan dalam skripsi untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi. Dea mewawancarai 150 perempuan di Jakarta dan sekitarnya sebagai responden risetnya. Mereka dianggap lebih akrab dengan layanan spa.

Skripsinya kemudian ia sarikan menjadi makalah berjudul The Impact of Perceived Value on Customer Satisfaction, Loyalty, and Repurchase. An Empirical Study of Spa Industry in Indonesia yang ia presentasikan pada International Conference of Planetary Scientific Research Center (PSRC) di Bangkok, Thailand, pada 2012. Makalahnya itu juga diterbitkan PSRC dalam jurnal internasional tentang riset bisnis dan ekonomi.

Dea boleh mulai bernapas lega sekarang. Masa-masa sulit membangun bisnis sudah ia rasakan. Bagaimana ia berjuang meyakinkan orangtua agar diizinkan terjun ke dunia bisnis. Maklum, ibunya seorang dosen dan ayahnya adalah profesional di bidang teknologi informasi. ”Saya harus membuktikan kepada orangtua bahwa saya bisa berhasil di bidang pendidikan seperti harapan mereka,” kata Dea yang baru saja lulus program magister manajemen.

Dea juga sudah berhasil melunasi utang kepada para investor yang meminjamkan modal. Ia teringat bagaimana pontang-panting pulang kuliah langsung ke spa dan mengurus bisnisnya hingga malam hari. Teori-teori yang ia pelajari di bangku kuliah membantunya menjalankan bisnis.

Seusai lulus sarjana, Dea sempat bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang memberinya persepsi bagaimana rasanya menjadi karyawan. Pengalaman ini ia manfaatkan dalam memperlakukan pegawai. Dea menerapkan suasana kekeluargaan. Momen yang membuatnya paling tersentuh adalah ketika hari gajian yang masih ia serahkan sendiri kepada setiap pegawai. Matanya berkaca-kaca ketika bercerita tentang para pegawainya yang berkisah bagaimana gaji itu membantu kehidupan keluarga mereka.

Optimismenya pun bangkit. Industri spa di Indonesia adalah yang tercepat ketiga perkembangannya di Asia, setelah India dan Tiongkok. Spa yang telah berkembang menjadi gaya hidup dapat menjadi tujuan khusus di mata pelancong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *