PIJAT BAYI TRADISIONAL VS MODERN (1) – Andalkan Langganan dan Gethok Tular

Bagi Informasi Ini

baby-spa-5jpgPelatihan SPA | Kursus SPA Bayi -PIJAT  atau Massage merupakan upaya untuk memanjakan tubuh sekaligus merelaksasikan otot-otot yang tegang.  Tidak hanya bagi orang dewasa pijat kini juga sudah merambah bagi dunia anak. Lalu, sejauh mana persaingan antara simbah atau dukun bayi tradisional dengan fasilitas serupa namun lebih modern dengan layanan yang semakin ketat? Mbah Kamsinah (76) yang akrab disapa Mbah Kam merupakan satu dari sekian banyak pemijat tradisional yang mulai langka di Yogyakarta. Sudah lama Mbah Kam melayani jasa pemijatan termasuk membantu persalinan seorang perempuan. Sedangkan ilmu yang didapat berasal dari titisan leluhurnya. “Saya tidak pernaj belaja ilmu pijet, keahlian  didapat dari nenek moyang. Orang dahulu masih sangat percaya dengan tradisi. Setelah ada pasien yang datang, saya pijat dan sembuh. Kemudian berita tersebut tersebar, gethok tular hingga saat ini, ” jelasnya kepada KR Newsroom, belum lama ini di rumahnya di Kampung Cyber, Patehan. Mbah Kam menuturkan sudah puluhan ribu pasien ditanganinya meski awalnya melayani jasa pijat pria dan wanita dewasa. Namun, seiring dengan waktu berjalan hanya membatasi anak-anak. Setiap hari melayani pemijatan sejak Pukul 06.30 – 15.00 WIB dengan keluhan terbesar adalah capek. Berbekal uang logam, minyak kayi putih, tangan dinginnya mengelus bagian tubuh anak-anak yang harus dipijat. “Kalau pijat anak banyak langganan saya yang datang lantaran dulu orangtuanya juga pijat di tempat ini. Jadi turunan dan jumlahnya tidak tentu. Kadang ramai, kadang sepi. Idealnya anak-anak dipijet saat puput puser, bisa miring, tengkurap, merangkak, belajar berjalan hingga bisa berjalan. Semua pemijatan tergantung dari yang dikeluhkan anak bisa sebulan dua kali atau sebulan sekali,” ujar perempuan asal Clereng, Wates Kulonprogo ini. Menurut Mbah Kam titik pemijatan biasanya punggung dan bokong  karena memiliki saraf menuju perut. Apabila perut sudah terasa enak, maka semua aktivitas berjalan lancar sehingga nafsu makan bayi bertambah. Namun, bila ada pasien yang ingin dibikinkan racikan minuman, akan menjelaskan resep yang harus diminum. “Saya pada dasarnya hanya tukang pijat  tradisional. Saya tidak merasa tersaingi dengan maraknya tempat pijat modern karena rezeki sudah ada yang mengatur dan tergantung selera pasien,” imbuhnya. Pendapat senada diungkapkan Mbah Sis (75), Warga Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Dia mengaku selama ini jumlah pasiennya tidak berkurang meski banyak lokasi pemijatan modern. Bahkan, sering dijemput untuk menangani pasien di daerah Umbulharjo sampai Condongcatur. “Sepertinya (jumlah pasien sama saja). Setiap hari pasti ada cuma tidak pernah menghitung jumlah pastinya. Dulu, orangtuanya pijat disini dan sekarang anaknya. Jadi gethok tular saja,” ujarnya. Kendati demikian, Mbah Sis mengetahui bagi kalangan medis pijat bayi tidak disarankan. Namun, beralasan anak kecil merasa capek namun karena belum bisa berbicara hanya bisa diam atau menangis. Akhirnya, Puskesmas setempat sudah mengumpulkan para dukun bayi sekaligus mendapat peltihan cama aman menangani (pijat) bayi sehingga prakteknya masih berlangsung tanpa ada keluhan dari pasien. Dukun bayi lain, Mbah Mul (72), Warga Gamping Sleman yang sudah 30 tahun melayani jasa ini tidak mengalami penurunan jumlah pasien. Bahkan, bertambah karena pasienya berganti-ganti dan setiap hari selalu ada pasien. “Kalau umpama pada gak percaya ya sudah tidak ada yang mau pijit. Nyatanya masih banyak kok. Bahkan banyak bapak ibu muda yang mengantarkan anaknya untuk dipijit,” katanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *