Hapus Stigma Tak Berdaya, Dinsos Bali Gelar Pelatihan SPA Disabilitas

Bagi Informasi Ini

Hapus Stigma Tak Berdaya, Dinsos Bali Gelar Pelatihan SPA Disabilitas

balipostcom_penciptaan-wirausaha-baru-pemkab-libatkan-penyandang-disabilitas_01-696x464

Pelatihan SPA – Pelatihan Solus Per Aqua (SPA) rehabilitasi sosial penyandang disabilitas Dinas Provinsi Bali berlangsung di Sekretariat DPD Pertuni Bali. Pelatihan yang berlangsung Senin (13/5) pagi itu dibuka Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra.

Pelatihan SPA yang berlangsung selama lima hari tersebut, dalam rangka pemenuhan hak penyandang disabilitas. Hal tersebut terkait dengan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, dan Perda Bali Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perlindungan dan Hak Pemenuhan Penyandang Disabilitas.

I Made Sudastra selaku kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Provinsi Bali menyampaikan, pelatihan ini untuk mendukung peningkatan kualitas pijat yang selama ini telah dimiliki tunanetra. Bahkan pijat tersebut telah memenuhi kebutuhan konsumen yang sekarang sangat dibutuhkan. Hal tersebut dapat meningkatkan pendapatan dan penghasilan sehingga taraf hidup penyandang disabilitas dan keluarganya lebih meningkat.

 “Realitas penyandang disabilitas masih sarat dengan stigma dan diskriminasi dari aspek pembangunan secara makro dan mikro. Sehingga upaya perlindungan dan pemenuhan hak disabilitas, terutama dalam konteks kebijakan dan program pembangunan di segala bidang, harus dilakukan oleh semua pihak, termasuk pemerintah. Salah satunya dengan memberikan kegiatan pelatihan SPA seperti ini,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Pelatihan tersebut sebagai salah satu sarana rehabilitasi sosial, sehingga mereka dapat melaksanakan fungsi sosialnya dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan di dalam masyarakat. Tujuannya, sebagai upaya memberikan keterampilan sehingga mempunyai motivasi dan percaya diri terhadap lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial masyarakat, dan diharapkan dapat hidup mandiri.

Sementara itu, Dewa Mahendra, usai membuka pelatihan menyampaikan, keterampilan SPA dan pijat harus ditingkatkan lagi. “Setelah itu mereka bisa bekerja di hotel besar atau villa, di samping melakukan door to door. Ini akan menambah penghasilan mereka. Kalau mereka sudah bisa, kami akan buatkan kelompok,” tegasnya.

Dia menambahkan, peserta tunanetra tersebut memiliki talenta, keterampilan dan kreativitas. “Dinsos dan masyarakat hanya memberikan pendampingan, fasilitas dan mediasi agar mereka berdaya guna dan berhasil guna,” terangnya.

Mengenai stigma bahwa tunanetra hanya bisa memijat, dia dengan tegas membantahnya. “Tunanetra tidak hanya bisa pijat. Mereka juga memiliki keterampilan lain. Dahulu, stigma masyarakat melihat tunanetra adalah hanya bisa membuat keset. Artinya, para tunanetra memiliki keterampilan lain selain pijat, karena mereka menggunakan perasaan, seperti  menganyam, merajut, bergerak di bidang musik,” tegasnya.

Dalam pelatihan ini, Dinas Sosial Provinsi Bali bekerja sama dengan Pertuni Provinsi Bali. Peserta yang ikut serta berjumlah 10 orang yang merupakan perwakilan kabupaten/kota di Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 − = 0

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>